Etos Kerja dan Kedisiplinan Bangsa Jepang

Para Pekerja di Jepang
Dalam berkepribadian, bangsa Jepang memiliki etos kerja, kedisiplinan dan komitmen untuk bekerja yang sangat baik. Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa disiplin dengan tingkat produktivitasnya yang tinggi.  Mereka bekerja dengan sangat giat, bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Dengan budaya kerja yang disiplin dan berkomitmen tinggi ini, bangsa Jepang memiliki tingkat ekonomi yang sejajar dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika.

Orang Jepang terkenal dengan etos kerjanya yang luar biasa. Etos kerja ini memiliki peranan penting dalam kebangkitan ekonomi Jepang, terutama setelah kekalahan Jepang dalam perang dunia ke dua, setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika Serikat pada tanggal 6 & 9 Agustus 1945 lalu. Berdasarkan data dari wikipedia.org, dua operasi pengeboman ini menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa. Ekonomi Jepang menjadi kacau balau, pengangguran dimana-mana, dan kondisi masyarakatnya yang memprihatinkan. Saat itu mereka tidak mempunyai pilihan selain bekerja keras untuk dapat terus hidup di tengah kekacauan tersebut.

Kondisi yang tengah kacau tersebut secara tidak langsung membuat mereka terus menempa kedisiplinan dan komitmen tinggi dalam pekerjaan yang mereka lakukan hanya untuk sekedar hidup. Maka tidak diragukan, akibat dari kondisi ini dapat memberikan dampak yang sangat signifikan dalam pembentukan etos kerja bangsa Jepang yang sangat mengagumkan. Etos kerja tersebut disalurkan ke generasi-generasi selanjutnya melalui konsep moral yang ditanamkan dalam pendidikan para penerus bangsa di Jepang agar mampu menerapkan prinsip tersebut untuk membangun Jepang kedepannya.

Bangsa Jepang memiliki berbagai macam prinsip atau disiplin ilmu yang biasa mereka terapkan dalam kegiatan mereka dalam dunia kerja, antara lain:

1.      Prinsip Bushido

Bushido berarti “tatacara ksatria”, sebuah kode etik kesatriaan golongan samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. Prinsip bushido ini diwariskan secara turun menurun sehingga dapat diterapkan oleh para generasi muda Jepang untuk membangun bangsanya.

2.      Prinsip Disiplin Samurai

Prinsip samurai mengajarkan tentang harga diri, tak kenal menyerah dan kesetiaan. Para samurai akan melakukan bunuh diri atau yang biasa disebut harakiri dengan menusukkan pedang ke perut jika kalah bertarung. Hal ini memperlihatkan usaha untuk menebus harga diri yang hilang ketika mereka kalah dalam pertarungan. Kini semangat samurai tertanam dengan kuat dalam kepribadian bangsa Jepang. Namun bedanya kini, semangat itu digunakan untuk membangun ekonomi, menciptakan berbagai macam teknologi, industri, menjaga harga diri dan kehormatan bangsa. Jepang adalah negara dengan sumber daya alam yang sanagt minim dan sering tertimpa bencana, seperti gempa dan tsunami. Tapi dengan prinsip ini, mereka tidak menyerah dengan kondisi seperti ini.

3.      Prinsip Budaya Keishan

Budaya keishan adalah budaya kerja yang kreatif, inovatif dan produktif yang menuntut kesungguhan, minat, dan keyakinan dalam bekerja. Prinsip budaya ini mendorong munculnya kemauan bangsa ini untuk belajar dari bangsa lain untuk terus menciptakan perubahan-perubahan yang berkesinambungan menyesuaikan dari perkembangan dunia dalam budaya kerja. Contoh penerapan prinsip prinsp budaya keishan ini adalah orang jepang yang selalu menciptakan penemuan-penemuan baru dan menciptakan inovasi-inovasi dari pembelajaran mereka tentang ekonomi, teknologi dan industri dari negara-negara maju di eropa dan amerika.

4.      Prinsip Kai Zen

Prinsip kai zen adalah prinsip yang sangat menekankan pentingnya tepat waktu dalam bekerja. Prinsip ini mendorong bangsa Jepang untuk memiliki komitmen yang tinggi pada setiap pekerjaan. Jika tidak tepat waktu, akan terjadi keterlambatan sehingga perusahaan akan mengalami kerugian. Karena prinsip kai zen adalah waktu dan biaya harus optimal untuk menghasilkan produk yang berkualitas, maka tidak perlu diragukan mengapa Jepang memiliki industri yang sangat maju karena ditunjang dengan sumber daya manusia yang disiplin dan berkomitmen tinggi.

Berbagai kemajuan ekonomi, teknologi dan industri yang telah dicapai bangsa Jepang ini membuat keadaan sosial mereka menjadi lebih baik, jauh dibandingkan tahun 1945 ketika mereka kalah dalam perang dunia ke II. Hal tersebut dapat tercapai karena sifat kerja mereka yang menjunjung tinggi etos kerja yang mengutamakan kedisiplinan dan komitmen untuk terus berproduktivitas membangun bangsa mereka.

Orang Jepang juga sangat menghargai waktu, didukung dengan prinsip kai zen yang tertanam kuat dalam diri mereka. Dengan kedisiplinan terhadap waktu, mereka lebih mudah melakukan suatu rencana pekerjaan yang membuat segala pekerjaan yang mereka lakukan itu menjadi efisien.

Bangsa Jepang memiliki prinsip kedisiplinan terhadap waktu yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-sehari, antara lain:

1.      Malu kalau mereka pulang lebih cepat

Orang Jepang mempunyai anggapan bahwa mereka yang pulang kerja lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif. Ukuran nilai orang Jepang didasarkan pada bentuk kedisiplinan waktu yang mereka gunakan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang bisa digunakan untuk bekerja hanya untuk bermalas-malasan semata. Kecintaan orang Jepang terhadap pekerjaannya membuat mereka selalu fokus pada apa yang mereka lakukan untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Mereka ingin terus mengupayakan kinerja yang berkualitas dengan waktu yang optimal.

2.  Waktu kerja benar-benar digunakan untuk kerja, waktu istirahat juga digunakan untuk istirahat

Orang Jepang selalu ingin memanfaatkan waktunya sesuai dengan kegiatan yang seharusnya mereka lakukan. Ketika waktunya bekerja, mereka akan dengan serius bekerja tanpa kehilangan fokus karena hal-hal yang lain. Ketika pagi masuk kerja, tidak akan ada lagi orang yang bercanda dan masing-masing dari mereka akan langsung menyibukan diri dengan pekerjaan mereka. Baru setelah tiba waktunya untuk beristirahat, mereka akan benar-benar menggunakannya dengan istirahat, mengobrol, bercanda, dan kegiatan-kegiatan menghibur lainnya. Mereka juga menggunakan waktu itu untuk bersama-sama menuju kantin untuk membeli dan memakan sesuatu. Ada juga yang membawa bekal dari rumah. Orang Jepang begitu pandai dalam sistem manajemen waktunya dan disiplin dalam pelaksanaan waktu yang telah dibuat.

3.     Memanfaatkan waktu 30 menit untuk tidur ketika istirahat

Biasanya para pekerja di Jepang akan mendapatkan waktu 60 menit untuk beristirahat. Selain membagi waktu itu untuk kegiatan makan, bercanda dan mengobrol, mereka juga menggunakannya untuk tidur, merebahkan kepala mereka sejenak di meja kerja masing-masing untuk mengisi kembali energi yang telah hilang agar siap kembali untuk mengerjakan tugas mereka berikutnya setelah jam istirahat selesai. Pemanfaatan waktu istirahat yang efektif ini menunjang produktivitas mereka di tempat kerja dan meminimalisir kondisi kelelahan agar optimal dalam pekerjaan mereka. Orang Jepang begitu pandai dalam memanfaatkan waktu yang mereka punya untuk melakukan hal-hal yang mereka benar butuhkan.

Kedisiplinan dan pemanfaatan waktu yang baik inilah yang membuat kerja dari orang-orang Jepang menjadi optimal. Kedisiplinan terhadap waktu juga menjadi pembentuk utama etos kerja yang dimiliki bangsa Jepang untuk giat-giatnya membangun sektor teknologi, industri dan ekonomi pada khususnya. Sektor-sektor tersebut lah yang menjadikan bangsa Jepang dikenal ketangguhannya oleh dunia internasional.

Seorang anak laki-laki yang lahir di sebuah kota yang biasa orang kenal sebagai Venice Van Java. Penyandang status mahasiswa di sebuah universitas yang menjadikan Pangeran Diponegoro yang sedang menunggangi kuda sebagai ikonnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »